Thursday, November 26, 2009

Support

Orang yang paling mendukung gue dalam mengambil keputusan :
1. Pacar
2. Guru

Gue hanya sempat menjalani pendidikan formal selama 9 tahu
n dan masa SMU gue, gue habiskan dirumah alias homeschooling. Jadi, ga banyak sosok guru yang gue tahu selama masa pendidikan formal gue. Tapi, ada satu orang guru yang banyak ngambil peran dikehidupan gue. Dia adalah Pak Muslimin.

Dia ngajar pelajaran Bahasa Indonesia. Gue emang cenderung lebih deket sama guru Bahasa Indonesia daripada guru yang lain pas gue masih SMP. Kenapa? Gue suka nulis. Blog in
i udah jadi pembuktian dari ide ide yang muncul gitu aja dikepala gue. Dan gue selalu nanya ke pak Muslimin tentang cara nulis sebuah cerita dengan aksen yang menarik dan ga ngebosenin.

Dia ngasi gue pelajaran yang berarti tentang hidup dan cara ngejalaninnya.

Pak Muslimin Marwas
Dia guru Bahasa Indonesia gue dikelas 2 SMP. Disekolah gue, dia termasuk 'guru idaman para wanita'. Dari mukanya emang mendukung, dia emang ganteng. Umurnya waktu itu juga masih muda. Tapi, caranya berpikir matang banget. Selama mendapat pendidikan formal di SMP dan SD, gue baru mendapati guru seperti beliau. Sesuatu yang unik diberi ke gue. Yaitu, cara praktis menuju tujuan. Asal tau aja, selama dia ngajar dikelas gue, dia ga pernah marah dan ga pernah bawa buku atau tas yang biasanya di bawa sama guru guru lainnya. Kerjanya hanya senyum dikelas(bukan berarti dia gila) dan cerita soal perjalan
an hidupnya.

Dia ga pernah nyuruh kita beli buku cetak atau LKS. Cuman nyuruh beli buku diary. Tahu kan? Tahu lah!
Selama pelajarannya, kita ga pernah diberi teori atau mencatat. Mencatat paling cuman apa yang didapat atau hikmah dari yang diceritakan oleh Pak Muslimin. Menurut beliau, Indonesia sudah terlalu banyak teori tapi kurang praktek. Dan beliau bermaksud buat membalik keadaan. Indonesia negara kurang teori tapi banyak praktek. Talk less, do more.

"Di negeri kita tercinta ini sudah terlalu banyak teori. Tapi, pra
kteknya ga ada sama sekali. Bahkan yang banyak ngelakuin hal ini adalah pemimpin negara kita. Janji saja yang diucapkan, sementara prakteknya tidak. Itu lah kenapa Indonesia jadi melarat seperti ini. Dan untuk apa pula kita mengikuti jejak para penghancur bangsa? Kita belajar dari pengalaman masing masing. Sekarang kita belajar tujuan hidup kita sebenarnya yaitu cara mencari uang."

Disitu pula gue dapet keunikan yang sangat istimewa dari beliau. Cerita kehidupan beliau yang menurut gue punya banyak makna. Ada satu cerita dari dia yang bikin gue sadar akan keberadaan dan posisi gue dalam keluarga gue yang ga pernah gue sadari.

"Saya punya saudara 5 orang. Dan saya pula yang paling bungsu. Ibu dan bapak saya selalu memprioritaskan sata terlebih dahulu daripada kakak kakak saya yang lain. Saya adalah anak yang paling diperhatikan dan disayang. Karena itu, kakak kakak saya yang lain menjadi iri dan benci terhadap saya. Pernah kah ada yang mempunyai pengalaman seperti ini?"

Kemudian, gue dan beberapa temen gue dikelas angkat tanga
n. Well, gue emang ngerasa kalo gue disisihkan dari kasih sayang nyokap bokap gue. Ade gue jauh lebih diperhatikan daripada mereka merhatiin gue. Jelas, posisi pak Muslimin ada di posisi ade gue, dan gue ada di posisi kakak kakak pak Muslimin.

"Setiap orangtua pasti menyayangi anaknya. Mereka sebenarnya tak pernah memilih kasih. Itu hanya kalian saja yang membuat pernyataan seperti itu. Tapi sebenarnya hal itu tidak pernah terjadi. Coba lah untuk meneliti keadaan yang ada. Apakah ada yang salah dengan dirimu sehingga or
angtua mu akan terlihat lebih menyayangi adikmu daripada menyayangi dirimu? Jika merasa tidak, kemudian telitilah dengan apa yang dimiliki adikmu. Lihatlah! Apa yang ada didirinya? Kenapa bisa ia mendapati kasih sayang orangtua mu lebih dari mu? Seperti saya, saya dulu punya penyakit asma. Penyakit asma yang tidak bisa ditinggal. Maka dari itu orangtua saya selalu menjaga saya layaknya seperti telur yang hampir pecah. Bisa kah kalian melihat satu hal yang dapat dipetik dari cerita ini? Artinya orangtua mu menganggap kamu adalah anak yang kuat, anak yang mandiri, dan bisa mengurus segala kebutuhan mu tanpa memerlukan bantuan mereka. Benarkan?"

Bener juga sih yang dibilang, nginget ade gue adalah perempuan jadi otomatis dia mendapat kasih sayang lebih. Setelah itu, gue ga pernah nuntut apa pun ke orangtua gue a
tau pun ngerasa iri.

Dan seperti itu lah pekerjaan beliau. Memberikan kami moral moral penting tentang kehidupan yang penuh dengan rahasia yang susah untuk ditebak oleh anak berumur 13 tahun seperti gue dan temen temen gue yang lain.

Didalam buku diary gue yang waktu masih SMP, gue nemu beberapa kalimat yang pernah dia tulis dicover diary gue. Tulisannya sangat jelas disitu. Dan ketika gue membaca itu, disitu pula gue harus berani jujur menghadap semua kebohongan gue sendiri.


Motivasi datang dari diri sendiri dan ia akan terasa lebih apabila kau berani menuliskannya dengan JUJUR. Kelak ia akan membuatmu TERSENYUM. (Muslimin)

0 bla bla bla:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.